Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2024

MERIAM BULUH

  MERIAM BULUH   Meriam buluh merupakan salah satu permainan tradisional yang pada masa lampau sangat populer di berbagai daerah Melayu. Permainan ini dikenal juga dengan berbagai nama, seperti: meriam bambu, bedil bambu, mercon bumbung, long bumbung, dan sebagainya.   Meriam buluh biasanya dimainkan oleh sekelompok anak laki-laki maupun dewasa   sebagai hiburan dalam mengisi waktu senggang,   pada sore hari   menjelang berbuka puasa dan malam hari selepas sholat Tarawih di bulan Ramadhan. Umumnya dimainkan secara berjajar di sepanjang tepi sungai dan dibunyikan/disulut secara bergantian.

ADU BUAH PARA

  ADU BUAH PARA   Adu buah para   merupakan salah satu permainan rakyat yang pada masa lampau cukup dikenal di beberapa daerah di Riau. Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak laki-laki, dengan menggunakan biji dari buah para/getah atau karet   yang berjatuhan dari pohonnya secara alami.   Adu buah para diawali dengan pengundian dengan cara suit untuk menentukan pemain yang menang dan kalah. Pemain yang kalah akan meletakan biji buah paranya dibawah biji buah para pemain yang menang. Setelah itu pemain pemenang berusaha memecahkan biji buah para lawan dengan cara memukul menggunakan   telapak tangan.    

SELETUP

  SELETUP Seletup merupakan salah satu permainan rakyat yang pada masa lampau cukup dikenal di beberapa daerah Melayu. Permainan ini dikenal juga dengan sebutan senapan lantak bambu dan bedil-bedilan.   Seletup biasanya dimainkan oleh anak laki-laki, dengan menggunakan alat bantu yang terbuat dari bambu yang berdiameter 1-2 cm dan panjangnya 30 cm sebagai laras dan tangkai penyodok   yang juga sama panjang dengan laras, serta buah seletup dari pohon kerokot sebagai pelurunya. Dimainkan dengan memasukan peluru ke dalam lubang laras seletup kemudian disodok hingga peluru tersebut meluncur keluar.

PACU JALUR

  P ACU JALUR   Pa cu Jalur merupakan tradisi budaya masyarakat Rantau Kuantan, yaitu sejenis perlombaan perahu dayung tradisional di Taluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Menurut masyarakat tempatan, yang tinggal di sepanjang Sungai Kuantan, tradisi yang diselenggarakan setiap tahun ini telah berlangsung lebih dari seratus tahun, kononnya sekitar tahun 1900 telah ada perlombaan memacu parahu, yang kita kenal sekarang ini dengan nama Pacu Jalur .   Pada masa lampau Pacu Jalur diselenggarakan di kampung-kampung sepanjang Sungai Kuantan tujuannya untuk merayakan berbagai hari besar Islam. Jalur yang digunakan saat itu berupa perahu besar yang fungsi utamanya untuk mengangkut hasil ladang.   Namun sejak kemerdekaan Pacu Jalur dilaksanakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, dan jalur yang digunakan pun dibuat secara khusus dengan panjang anatara 25 – 40 meter yang dapat memuat 40 – 60 orang.